hover animation preload

Dongeng Timun Emas
by Rahmat Ilham in , , , , ,

Pada zaman dahulu, hidup sepasang suami istri petani. Mereka tinggal di sebuah desa di dekat hutan. Mereka hidup bahagia, namun sayangnya mereka belum dikaruniai seorang anak.
Setiap hari mereka berdoa pada Yang Maha Kuasa. Mereka berdoa agar segera diberi seorang anak. Pada suatu hari seorang raksasa lewat di dekat tempat tinggal mereka. Karena mendengar doa suami istri itu, Raksasa itu kemudian memberi mereka beberapa biji mentimun.
“Tanamlah biji ini. Nanti kau akan mendapatkan seorang anak perempuan,” kata Raksasa. “Terima kasih, Raksasa,” kata suami istri itu. “Tapi ada syaratnya," kata Raksasa menyela. Pada usia 17 tahun anak itu harus kalian serahkan padaku,” sahut Raksasa. Karena suami istri itu sangat merindukan seorang anak, mereka pun tanpa berpikir panjang mereka menyetujuinya.
Suami istri petani itu kemudian menanam biji-biji mentimun itu. Setiap hari mereka merawat tanaman yang mulai tumbuh itu dengan baik. Berbulan-bulan kemudian tumbuhlah buah mentimun yang warnanya keemasan.
Berbeda dengan mentimun lainnya, buah ini semakin lama semakin besar dan berat. Ketika tiba waktunya dipetik, mereka pun memetiknya. Dengan hati-hati mereka memotong buah itu. Betapa terkejutnya mereka, di dalam buah itu mereka menemukan bayi perempuan yang sangat cantik. Suami istri itu sangat bahagia. Mereka memberi nama bayi itu Timun eMas.
Tahun demi tahun terus berlalu. Timun eMas tumbuh menjadi gadis yang cantik. Kedua orang tuanya sangat bangga padanya. Tapi mereka menjadi sangat takut, karena pada ulang tahun Timun eMas yang ke-17, sang raksasa akan datang kembali. Raksasa itu menangih janji untuk mengambil Timun eMas.
Petani itu mencoba menghadapi raksasa dengan tenang. “Tunggulah sebentar, Timun eMas sedang bermain. Istriku akan memanggilnya,” katanya. Petani itu segera menemui anaknya. Setelah menceritakan kejadian sesungguhnya ia pun mengatur semuanya. “Anakkku, ambillah ini,” katanya sambil menyerahkan sebuah kantung kain. “Ini akan menolongmu melawan Raksasa. Sekarang larilah secepat mungkin,” katanya. Maka Timun eMas pun segera melarikan diri.
Suami istri petani itu sedih atas kepergian Timun eMas. Tapi mereka tidak rela kalau anaknya menjadi santapan Raksasa. Raksasa itu terus menunggu hingga cukup lama. Ketika mulai tidak sabar, ia mulai tahu telah dibohongi suami istri itu. Karena marah lalu ia pun menghancurkan pondok petani itu. Lalu ia mengejar Timun eMas ke hutan.
Sambil melampiaskan amarahnya, Raksasa segera berlari mengejar Timun eMas. Saat Raksasa semakin dekat, Timun eMas segera mengambil segenggam garam dari kantung kainnya. Lalu garam itu ditaburkan ke arah Raksasa. Tiba-tiba sebuah laut yang luas pun terhampar hingga Raksasa terpaksa berenang dengan susah payah.
Timun eMas berlari lagi. Tapi ketika Raksasa hampir berhasil menyusulnya, Timun eMas kembali mengambil benda ajaib dari kantungnya. Ia mengambil segenggam cabai, dilemparnya ke arah raksasa, dan seketika itu sebatang pohon dengan ranting dan duri yang tajam memerangkap Raksasa. Raksasa pun berteriak kesakitan. Sementara raksasa melepaskan diri dari pohon yang menjeratnya, Timun eMas berlari menyelamatkan diri.
Tapi Raksasa itu ternyata sungguh kuat. Ia lagi-lagi hampir menangkap Timun eMas. Maka Timun eMas pun mengeluarkan benda ajaib yang ketiga, ia menebarkan biji-biji mentimun ajaib. Seketika tumbuhlah kebun mentimun yang sangat luas, hingga Raksasa menjadi sangat letih dan kelaparan. Ia pun makan mentimun-mentimun yang segar itu dengan lahap. Karena terlalu banyak makan, Raksasa pun tertidur.
Timun eMas kembali melarikan diri. Kali ini ia berlari sekuat tenaga, tapi lama kelamaan tenaganya habis juga. Lebih celaka lagi saat Raksasa terbangun dari tidurnya. Raksasa lagi-lagi hampir menangkapnya hingga Timun eMas sangat ketakutan. Ia pun melemparkan senjatanya yang terakhir, segenggam terasi udang. Lagi-lagi terjadi keajaiban. Sebuah danau lumpur yang luas terhampar. Raksasa terjerembab ke dalamnya. Tangannya hampir menggapai Timun Mas. Tapi danau lumpur itu menariknya ke dasar. Raksasa panik. Ia tak bisa bernapas, lalu tenggelam.
Timun Mas lega. Ia telah selamat. Timun Mas pun kembali ke rumah orang tuanya. Ayah dan Ibu Timun Mas senang sekali melihat Timun Mas selamat. Mereka menyambutnya. “Terima Kasih, Tuhan. Kau telah menyelamatkan anakku,” kata mereka gembira.
Sejak saat itu Timun Mas dapat hidup tenang bersama orang tuanya. Mereka dapat hidup bahagia tanpa ketakutan lagi.



Bagikan

Comments (0)

Petualangan Tom Sawyer
by Rahmat Ilham in , , ,

Tom Sawyer adalah seorang anak laki-laki yang sangat menyukai petualangan. Pada suatu malam ia melarikan diri dari rumah, lalu bersama temannya yang bernama Huck pergi ke makam. "Hei, Huck! Kalau kita membawa kucing yang mati dan menguburnya, katanya kutil kita bisa diambil. " "Benar. Serahkan saja padaku! Masak sih begitu saja takut?"

"Hei , tunggu! Ada orang yang datang!" bisik Tom. Tom dan Huck segera bersembunyi.
"Bukankah itu dokter dan Kakek Peter?"
"Lihat, itu si Indian Joe..."
Kemudian Dokter dan Kakek Petter mulai bertengkar karena masalah uang. Untuk mendapatkan mayat, Dokter harus melakukan penggaliannya berdua. Lalu Kakek Petter mulai menaikkan harga, tetapi Dokter menolak. Kemudian Kakek Petter dipukul oleh Dokter hingga terjatuh. Setelah itu, si Indian Joe memungut pisau yang dibawa Kakek Petter dan melompat menyerang Dokter. Brukk! Si Indian Joe membunuh Dokter, lalu pergi membawa lari uang itu.

Keesokan harinya Dokter ditemukan meninggal dunia di makam itu, dan orang-orang kota mulai berkumpul. "Ini adalah pisau Kakek Petter. Jadi, Kakek yang membunuh Dokter."

"A... aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas..."
"Apa!? Aku telah melihat Kakek Petter membunuh Dokter."
" Memang benar, pembunuhnya adalah Kakek Petter.
Kemudian Kakek Petter ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara."
"Wah... padahal pembunuh yang sebenarnya adalah si Indian Joe."
"Tetapi, kalau kita mengatakan hal itu, si Indian Joe akan balas dendam dan membunuh kita..."

Beberapa hari telah berlalu, dan semua orang telah melupakan kejadian itu. Pada suatu hari Tom bertengkar dengan Becky, gadis yang disukainya di sekolah.
"Apa-apaan, aku benci sama Tom!"
Tom yang dimarahi oleh Becky merasa patah hati. Lalu temannya yang bernama Joe berkata, "Baik di rumah maupun di sekolah aku sudah tak diperlukan. Tom, kita melarikan diri saja, yuk! "

Tom dan Joe mengajak Huck, mereka bermaksud hidup di sebuah pulau di tengah-tengah sungai. "Yahooo! Kalau begini, kita seperti bajak laut, ya!"
"Kita tak perlu pergi ke sekolah!" Ketiganya menyeberangi sungai dengan rakit yang dibuatnya, dan mereka seharian bermain. Ketika mulai lapar, mereka pun makan telur goreng dan apel.
Keesokan harinya ketika mereka sedang bermain, tiba-tiba.... duaaar! Air sungai menyembur ke atas. "Oh, itu adalah isyarat dari seseorang yang sedang mencari orang yang tenggelam." Orang-orang kota mengira Tom dan Joe tenggelam di sungai, lalu mereka pun datang untuk mencari.
"Mungkin saat ini Bibi Polly sedang mengkhawatirkanku," pikir Tom Di tengah malam Tom berenang menyeberangi sungai, kembali ke rumahnya untuk melihat keadaan. Ketika Tom mengintip dari jendela, dilihatnya Bibi Polly dan Ibu Joe sedang menangis.

"Semuanya meninggal dunia, ya..."
Kemudian Tom kembali ke pulau dan menceritakan hal itu pada Huck dan Joe. Mereka sangat terkejut. Akhirnya, mereka sepakat untuk pulang pada hari upacara pemakaman mereka.

"Wah, Tom! Kamu pulang ya."
"Joe, syukurlah kamu pulang dengan selamat."
Semuanya gembira atas kepulangan mereka. Beberapa hari kemudian pengadilan Kakek Petter dimulai. Di pengadilan Kakek Petter ditetapkan sebagai pembunuh, dan ia akan dihukum mati. Untuk membebaskan Kakek Petter, Tom memberanikan diri menjadi saksi.

"Pembunuh yang sebenarnya adalah si Indian Joe itu. Kami telah melihat kejadian yang sesungguhnya." Si Indian Joe yang mendengar hal ini segera melompat dari jendela. Praaang! Ia melarikan diri. Kakek Petter merasa sangat gembira karena jiwanya tertolong.

"Tom, terima kasih banyak. Begitu pengadilan berakhir, kota kembali pada kehidupannya semula. Pada suatu hari Huck dan Tom pergi ke sebuah rumah yang tak berpenghuni. Ketika keduanya sedang mencari sesuatu di lantai dua, tiba-tiba seseorang masuk ke dalam rumah.

"Ooh! Si Indian Joe bersama sahabatnya, Si Pencuri!" Mereka datang u
ntuk menyembunyikan uang yang telah dicurinya. Mereka mulai menggali lantai, dan... criing! Mereka mengeluarkan kotak emas.

"Hyaaa! Harta karun yang banyak! "Baiklah, kita pindahkan persembunyiannya lalu kita beri tanda dengan kayu ini." Si Indian Joe juga mulai naik ke lantai dua untuk memeriksa.

"Bagaimana, nih? Kalau ketahuan pasti kita dibunuh olehnya," bisik Tom. Tiba-tiba..... Praaak! Gedebug! Karena papan tangganya sudah lapuk, sesampai di tengah Si Indian Joe terjatuh. Tom dan Huck pun merasa lega.


Beberapa hari telah berlalu. Pada suatu hari Huck mengikuti Indian Joe dan temannya sendirian. "Apakah mereka mau menyembunyikan emasnya?" pikir Huck. Ternyata Indian Joe dan temannya bermaksud menyerang rumah Nyonya Douglas. "Gawat! Aku harus cepat-cepat memberitahu seseorang!"

Karena pemberitahuan Huck, orang yang rumahnya bertetangga dengan Nyonya Douglas segera membawa senapan dan menembak para pencuri itu. Door! Door! Indian Joe dan temannya sangat terkejut, lalu mereka melarikan diri. "Sudah tidak apa-apa kok!!"
"Ini semua berkat Huck. Terima kasih atas pemberitahuannya, ya!"
Pada kesempatan yang lain Tom, Becky, dan teman-temannya pergi rekreasi bersama-sama. Tapi karena terlalu jauh menjelajah, Tom dan Becky tersesat di sebuah goa. Mereka tak tahu jalan pulang.

Tiba-tiba muncul asap membubung mengelilingi keduanya. "Kyaaa! Tom, aku takut!"
"Oh, ada seseorang! " Tiba-tiba muncullah sosok Indian Joe di depan Tom dan Becky. Saking terkejutnya, sampai-sampai keduanya sulit untuk bemafas. "Waaaw! Ayo, lari!"

Dengan cepat Tom dan Becky berlari hingga keluar dari dalam goa dan berhasil pulang.
Bibi Polly yang khawatir sangat gembira dengan kepulangan kedua anak itu. Ketika Tom pergi bermain ke rumah Becky, ayah Becky berkata, "Tom, karena goa itu berbahaya sebaiknya ditutup saja."

"Ya, tetapi di situ ada Indian Joe." Benar saja, ketika semuanya pergi ke sana temyata Indian Joe jatuh pingsan di pintu masuk goa. la tersesat. Kemudian mereka menutup pintu masuk goa, dan menjebloskan Indian Joe ke dalam penjara.

"Temyata Indian Joe menyembunyikan emasnya di atas batu yang terletak di dalam goa ini dan telah diberi tanda." Tom dan Huck masuk ke dalam goa dengan melewati jalan rahasia. Ketika mereka menggali batu yang sudah diberi tanda, mereka melihat emas yang disembunyikan pencuri itu.
"Horee dengan harta ini, kita akan menjadi kaya!" Saat Tom dan Huck pulang, Nyonya Douglas yang telah ditolong oleh Huck mengadakan pesta untuk menyambut mereka



Bagikan

Comments (0)

Petualangan Sinbad
by Rahmat Ilham in , , ,

Dahulu di daerah Baghdad, timur tengah, ada seorang pemuda bernama Sinbad yang kerjanya mengangkat barang-barang yang berat dengan upah yang sedikit sehingga hidupnya tergolong miskin. Suatu hari Sinbad beristirahat di depan pintu rumah saudagar kaya karena sangat lelah dan kepanasan. Sambil istirahat ia menyanyikan lagu. "Namaku Sinbad, hidupku sangat malang, berapapun aku bekerja dengan memanggul beban di punggung tetaplah penderitaan yang kurasakan." Tak berapa lama muncul pelayan rumah itu, menyuruh Sinbad masuk karena dipanggil tuannya. "Apakah namamu Sinbad?"
"Benar Tuan."
"Namaku juga Sinbad," kata sang saudagar. Ia pun mulai bercerita.

"Dulu aku seorang pelaut. Ketika mendengar nyanyianmu, aku sangat sedih karena kau pikir hanya kamu sendiri yang bernasib buruk. Dulu nasibku juga buruk, orangtua ku meninggalkan banyak warisan, tetapi aku hanya bermain dan menghabiskan harta saja. Setelah jatuh miskin aku bertekad menjadi seorang pelaut. Aku menjual rumah dan semua perabotannya untuk membeli kapal isinya."

"Karena sudah lama tidak menemui daratan, ketika ada daratan yang terlihat kami segera merapatkan kapal. Para awak kapal segera mempersiapkan makan siang. Mereka membakar daging dan ikan, Tapi tiba-tiba permukaan tanah bergoyang. Pulau itu bergerak ke atas, para pelaut berjatuhan ke laut. Begitu jatuh ke laut, aku sempat melihat ke pulau itu, ternyata pulau tersebut hanya badan ikan paus. Karena ikan paus itu sudah lama tak bergerak, tubuhnya ditumbuhi pohon dan rumput, mirip seperti pulau. Mungkin karena panas dari api unggun, ia mulai bergerak liar."
"Mereka yang terjatuh ke laut disabet ekor ikan paus sehingga tenggelam. Aku berusaha menyelamatkan diri dengan memeluk sebuah gentong, hingga aku pun terapung-apung di laut. Beberapa hari kemudian, aku berhasil sampai ke daratan. Aku haus dan menemukan sebatang pohon kelapa. Kemudian aku memanjatnya dan mengambil buah dan meminum airnya. Tiba-tiba aku melihat ada sebutir telur yang sangat besar. Ketika turun dan mendekati telur itu, tiba-tiba dari arah langit terdengar suara yang menakutkan disertai suara kepakan sayap yang mengerikan. Ternyata suara itu datang dari seekor burung naga yang amat besar." "Setelah sampai disarangnya, burung naga itu tertidur sambil mengerami telurnya. Sinbad menyelinap di kaki burung itu, dan mengikat erat badannya di kaki burung naga dengan kainnya. "Kalau ia bangun, pasti ia langsung terbang dan pergi ke tempat di mana manusia tinggal," pikirnya.

Benar, esoknya burung naga terbang mencari makanan. Ia terbang melewati pegunungan dan akhirnya tampak sebuah daratan. Burung itu turun di sebuah tempat yang dalam di ujung jurang. Sinbad segera melepas ikatan kainnya di kaki burung dan bersembunyi di balik batu. Sekarang Sinbad berada di dasar jurang. Sinbad tertegun melihat tempat di sekelilingnya banyak berlian.
Tiba-tiba, ... "Bruk" ada sesuatu yang jatuh. Ternyata gundukan daging yang besar jatuh di dekatnya. Di sekujur daging itu tertancap banyak berlian yang bersinar-sinar. Ternyata, untuk mengambil berlian itu manusia sengaja menjatuhkan daging ke jurang agar diambil oleh burung naga. Sinbad mempunyai ide, maka ia segera mengikatkan dirinya ke gundukan daging. Tak berapa lama burung naga datang dan mengambil daging dan membawanya terbang dari dasar jurang.

Tiba-tiba, "Klang! Klang! Terdengar suara gong dan suling yang bergema. Burung naga yang terkejut menjatuhkan gundukan daging dan cepat-cepat terbang menjauh. Orang-orang pun datang untuk mengambil berlian. Kali ini mereka terkejut menemukan Sinbad terikat di dagingnya.
Sinbad pun menceritakan semua kejadian yang dialaminya. Kemudian para pencari berlian mengantarkan Sinbad ke pelabuhan untuk kembali ke negaranya. Sinbad pun menjual berlian yang didapatnya dan membeli sebuah kapal yang besar dengan awak kapal yang banyak.

Seterusnya ia berangkat berlayar sambil melakukan perdagangan. Suatu hari kapal Sinbad dirampok oleh para perompak. Kemudian Sinbad dijadikan budak yang akhirnya dijual kepada seorang pemburu gajah.

"Apakah kau bisa memanah?" Tanya pemburu gajah. Sang pemburu memberi Sinbad busur dan anak panah dan diajaknya ke padang rumput luas. "Ini adalah jalan gajah. Naiklah ke atas pohon, tunggu mereka datang lalu bunuh gajah itu". "Baik tuan," jawab Sinbad ketakutan.
Esok paginya datanglah gerombolan gajah. Saat itu pemimpin gajah melihat Sinbad dan langsung menyerang pohon yang dinaiki Sinbad. Sinbad jatuh tepat di depan gajah. Gajah itu kemudian menggulung Sinbad dengan belalainya yang panjang. Sinbad mengira ia pasti akan dibunuh atau di banting ke tanah. Ternyata, gajah itu membawa Sinbad dengan kelompok mereka ke sebuah gunung batu. Akhirnya terlihat sebuah air terjun besar. Dengan membawa Sinbad, gajah itu masuk ke dalam air terjun menuju ke sebuah gua.

"Ku..kuburan gajah!" Sinbad terperanjat. Di gua yang luas bertumpuk tulang dan gading gajah. Pemimpin gajah berkata,"Kalau kau ingin gading ambillah seperlunya. Sebagai gantinya, berhentilah membunuh kami." Sinbad berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.

Ia pulang dengan memanggul gading gajah dan menyerahkan ke tuannya dengan syarat tuannya tidak akan membunuh gajah lagi. Tuannya berjanji dan kemudian memberikan Sinbad uang.
"Sampai di sini dulu ceritaku", ujar Sinbad yang sudah menjadi saudagar kaya. "Aku bisa menjadi orang kaya, karena kerja keras dengan uang itu. Jangan putus asa sampai kapanpun, apalagi jika kita masih muda," lanjut sang saudagar.




Bagikan

Comments (0)

Malin Kundang
by Rahmat Ilham in , , , ,

Pada suatu waktu hiduplah sebuah keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatra. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak laki-laki yang diberi nama Malin Kundang. Karena kondisi keuangan keluarga memprihatinkan, sang ayah memutuskan untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan mengarungi lautan yang luas.

Maka tinggallah si Malin dan ibunya di gubug mereka. Seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan bahkan sudah 1 tahun lebih lamanya, ayah Malin tidak juga kembali ke kampung halamannya. Sehingga ibunya harus menggantikan posisi ayah Malin untuk mencari nafkah. Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas di lengannya dan tidak bisa hilang.

Setelah beranjak dewasa, Malin Kundang merasa kasihan pada ibunya yang membanting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Ia berpikir untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman ia sudah menjadi seorang yang kaya raya. Malin tertarik dengan ajakan seorang nakhoda kapal dagang yang dulunya miskin, sekarang sudah jadi kaya raya.

Malin kundang mengutarakan maksudnya kepada ibunya. Ibunya semula kurang setuju dengan maksud Malin, tetapi karena ia terus mendesak, Ibu Malin Kundang akhirnya menyetujuinya walau dengan berat hati. Setelah mempersiapkan bekal dan perlengkapan secukupnya, Malin segera menuju ke dermaga dengan diantar oleh ibunya. "Anakku, jika engkau sudah berhasil dan menjadi orang yang berkecukupan, jangan kau lupa dengan ibumu dan kampung halamannu ini, nak," ujar Ibu Malin Kundang sambil berlinang air mata.

Kapal yang dinaiki Malin semakin lama semakin jauh dengan diiringi lambaian tangan Ibu Malin Kundang. Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman. Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang diserang oleh bajak laut. Semua barang dagangan yang ada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang sangat beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut, karena berhasil bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup kayu.

Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Sesampainya di desa tersebut, Malin Kundang ditolong oleh masyarakat desa setelah sebelumnya menceritakan kejadian yang menimpanya.

Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.


Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu ibu Malin Kundang setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya.

Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran dengan kapal yang besar dan indah disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin Kundang yang setiap hari menunggui anaknya, melihat kapal yang sangat indah itu masuk ke pelabuhan. Ia melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.


Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia terus dilihat oleh ibunya. Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka di lengan kanan orang tersebut hingga makin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang.

"Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?" katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tapi apa yang terjadi kemudian? Malin Kundang segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh.

"Wanita tak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku", kata Malin Kundang pada ibunya. Malin Kundang pura-pura tidak mengenali ibunya, karena malu dengan ibunya yang sudah tua dan mengenakan baju compang-camping.


"Wanita itu ibumu?" tanya istri Malin Kundang.
"Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan harta ku," sahut Malin kepada istrinya. Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menengadahkan tangannya sambil berkata, "Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu."

Tidak berapa lama kemudian angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang.




Bagikan

Comments (0)

Lutung Kasarung
by Rahmat Ilham in , , , ,

Di sebuah kerajaan, Sang Prabu Tapa Agung menunjuk Purbasari, putri bungsunya sebagai pengganti."Aku sudah terlalu tua, saatnya aku turun tahta," kata Prabu Tapa.

Sebenarnya Purbasari memiliki kakak yang bernama Purbararang. Karena merasa lebih tua, ia tidak setuju adiknya diangkat menggantikan Ayah mereka. "Aku putri Sulung, seharusnya ayahanda memilih aku sebagai penggantinya," gerutu Purbararang pada tunangannya yang bernama Indrajaya.

Kegeramannya yang sudah memuncak membuatnya mempunyai niat mencelakakan adiknya. Ia menemui seorang nenek sihir untuk memanterai Purbasari. Nenek sihir itu memanterai Purbasari sehingga saat itu juga tiba-tiba kulit Purbasari menjadi bertotol-totol hitam. Purbararang jadi punya alasan untuk mengusir adiknya tersebut. "Orang yang dikutuk seperti dia tidak pantas menjadi seorang Ratu!" ujar Purbararang.

Kemudian ia menyuruh seorang Patih untuk mengasingkan Purbasari ke dalam hutan. Sesampai di hutan patih tersebut masih berbaik hati dengan membuatkan sebuah pondok untuk Purbasari. Ia pun menasehati Purbasari. "Tabahlah Tuan Putri. Cobaan ini pasti akan berakhir, Yang Maha Kuasa pasti akan selalu bersama Putri."
"Terima kasih paman," ujar Purbasari.


Selama di hutan ia mempunyai banyak teman yaitu hewan-hewan yang selalu baik kepadanya. Di antara hewan tersebut ada seekor kera berbulu hitam yang misterius. Kera ini mempunyai perhatian lebih kepada Purbasari. Lutung hitam ini selalu menggembirakan Purbasari dengan mengambilkan bunga–bunga yang indah serta buah-buahan bersama teman-temannya.

Pada suatu malam purnama, Lutung hitam yang biasa dipanggil Lutung Kasarung bersikap aneh. Ia berjalan ke tempat yang sepi lalu bersemedi. Ia sedang memohon sesuatu kepada Dewata. Ini membuktikan bahwa Lutung Kasarung bukan makhluk biasa. Tidak lama kemudian, tanah di dekat Lutung merekah dan terciptalah sebuah telaga kecil, airnya jernih sekali. Airnya mengandung obat yang sangat harum.

Keesokan harinya Lutung Kasarung menemui Purbasari dan memintanya untuk mandi di telaga tersebut.
"Apa manfaatnya bagiku?" pikir Purbasari. Tapi karena sudah mempercayai Si Lutung, ia mau menurutinya. Tak lama setelah menceburkan dirinya, sesuatu terjadi pada Purbasari. Kulitnya menjadi bersih seperti semula dan ia menjadi cantik kembali. Purbasari sangat terkejut dan gembira ketika ia bercermin di air telaga.
Sementara itu di dalam istana, Purbararang memutuskan untuk mengintip keberadaan adiknya di dalam hutan. Ia pun pergi bersama tunangannya diiringi para pengawal. Ketika sampai di hutan, ia akhirnya bertemu dengan adiknya dan saling berpandangan. Purbararang tak percaya melihat adiknya kembali seperti semula.

Purbararang tidak mau kehilangan muka. Ia pun menantang Purbasari untuk adu panjang rambut.
"Siapa yang paling panjang rambutnya dialah yang menang," tantang Purbararang. Meski pada awalnya menolak, pada akhirnya Purbasari meladeni tantangan kakaknya. Setelah rambut mereka diurai, ternyata rambut Purbasari lebih panjang.


"Baiklah, aku memang kalah. Tapi sekarang ayo kita adu tampan tunangan kita. Ini tunanganku, sekarang tunjukkan padaku di mana tunanganmu....." kata Purbararang sambil mendekat kepada Indrajaya.

Purbasari mulai gelisah dan kebingungan. Karena tidak ada yang akan diajukannya, ia pun melirik serta menarik tangan Lutung Kasarung. Lutung Kasarung melonjak-lonjak seakan-akan menenangkan Purbasari. Purbararang tertawa terbahak-bahak. "Jadi monyet itukah tunanganmu?"


Pada saat itu juga Lutung Kasarung segera bersemedi. Setelah beberapa saat, tiba-tiba terjadi suatu keajaiban. Lutung Kasarung berubah menjadi seorang Pemuda gagah berwajah sangat tampan, jauh melebihi ketampanan Indrajaya.

Semua pengawal dan binatang yang ada di hutan terkejut melihat kejadian itu. Beberapa saat kemudian mereka bersorak gembira. Setelah kebingungan beberapa saata, Purbararang akhirnya mengakui kekalahannya dan menyatakan kesalahannya selama ini. Ia mohon maaf pada adiknya dan minta diberi ampunan untuk tidak dihukum. Purbasari yang baik hati tentu saja memaafkan saudarnya. Setelah kejadian itu akhirnya mereka semua kembali ke Istana.
Akhirnya Purbasari dinobatkan menjadi seorang ratu. Ia memerintah kerajaan dengan didampingi seorang pemuda idamannya, Pemuda yang selama ini sudah mendampinginya di hutan dalam wujud seekor lutung.




Bagikan

Comments (0)

Dongeng Bawang Merah Bawang Putih
by Rahmat Ilham in , , ,

Jaman dahulu kala di sebuah desa tinggal sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan seorang gadis cantik bernama Bawang Putih. Mereka hidup bahagia, rukun dan damai meski ayahnya hanya pedagang biasa. Kebahagiaan itu terganggu ketika ibu Bawang Putih sakit keras dan tidak bisa disembuhkan sampai akhirnya meninggal dunia.
Sementara itu di desa mereka tinggal pula seorang janda yang memiliki anak bernama Bawang Merah. Setelah kematian ibunya, Bawang putih sering dikunjungi ibu Bawang Merah. Dia sering membawakan makanan, membantu Bawang Putih membereskan rumah dan menemani keluarga itu ngobrol. Setelah sekian hari, ayah Bawang Putih berpikir untuk menikahi ibu Bawang Merah.
Ayah Bawang Putih pun menikah dengan ibu Bawang merah. Ibu Bawang Merah dan anaknya mula-mula memang sangat baik hati, namun lama kelamaan sifat aslinya mulai kelihatan. Mereka memarahi Bawang Putih dan memberinya pekerjaan berat, apalagi saat ayah Bawang Putih sedang pergi berdagang. Bawang Putih harus mengerjakan semua pekerjaan rumah sementara Bawang Merah dan ibunya hanya duduk-duduk saja. Ayah Bawang putih tidak mengetahuinya karena Bawang Putih tidak pernah mengadu.
Suatu ketika ayah Bawang Putih jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Sejak saat itu Bawang Merah dan ibunya semakin semena-mena, sampai-sampai Bawang Putih hampir tidak pernah bisa istirahat. Dia harus bangun sebelum subuh, menyiapkan air panas untuk mandi, memasak sarapan bagi Bawang Merah dan ibunya. Dia juga harus memberi makan ternak, menyirami kebun dan mencuci baju. Selepas itu ia juga harus menyetrika baju, membereskan rumah, begitu terus sampai tak pernah berhenti bekerja. Bawang Putih selalu melakukan pekerjaannya dengan gembira, sambil berharap dengan berdoa agar ibu tirinya akan mencintainya seperti anak sendiri.
Pagi itu seperti biasa Bawang Putih pergi ke kali untuk mencuci baju. Bawang Putih segera mencuci pakaian yang dibawanya, namun tak disadarinya ada selembar baju yang hanyut terbawa arus. Celakanya, baju itu adalah baju kesayangan ibu tirinya. Ketika baju itu telah terhanyut cukup jauh Bawang Putih baru menyadarinya. Gadis itu mencoba menyusuri sungai untuk mencari namun tidak berhasil. Dengan memberanikan diri dia pun kembali ke rumah dan menceritakan kepada ibunya. “Dasar ceroboh!” bentak ibu tirinya. “Aku tidak mau tahu, pokoknya baju itu harus dicari! Jangan coba-coba pulang kalau belum menemukannya lagi!”
Tak ada pilihan lain, Bawang Putih terpaksa menuruti semuanya. Dia kembali menyusuri sungai saat matahari mulai meninggi, namun usaha itu sepertinya sia-sia. Saat langkahnya semakin jauh, matahari pun kian condong ke barat. Di sebuah tempat yang belum dikenal, Bawang Putih melihat seorang penggembala sedang memandikan kerbau.
“Wahai paman yang baik, apakah paman melihat baju merah yang hanyut?”
“Ya, tadi ada baju hanyut. Kalau kamu mengejarnya cepat-cepat, mungkin bisa menemukan,” kata paman.
“Terima kasih paman!” kata Bawang Putih sambil langsung berlari.

Ketika hari mulai gelap Bawang Putih mulai kelelahan dan khawatir karena malam akan tiba. Untung saja ia melihat cahaya lampu dari sebuah gubuk. Gadis itu pun segera menghampiri.

“Permisi…!” kata Bawang putih. Tak lama kemudian seorang perempuan tua membuka pintu.
“Siapa kamu?” tanya nenek itu.
“Saya Bawang putih. Tadi saya mencari baju yang hanyut, dan sekarang kemalaman. Bolehkah saya tinggal di sini semalam saja?” tanya Bawang putih.
“Boleh nak, .... apakah baju yang kau cari berwarna merah?” tanya nenek.
“Ya nek. Apa…nenek menemukannya?” tanya Bawang putih gembira.
“Ya, tadi baju itu tersangkut di depan rumah. Sebenarnya aku menyukai baju itu, tapi akan kukembalikan asal kamu mau tinggal di sini selama seminggu. Sudah lama aku tidak ngobrol dengan siapapun. Bagaimana?” pinta nenek.
Bawang putih berpikir sejenak, ”Kasihan nenek ini, ... kelihatan kesepian.”
Bawang Putih pun merasa iba dan, “Baiklah nek, saya akan menemani nenek seminggu. Tapi nenek jangan bosan ya dengan aku,” kata Bawang putih sambil tersenyum.
Akhirnya Bawang putih benar-benar tinggal di rumah nenek tersebut. Setiap hari ia bantu si nenek mengerjakan pekerjaan rumah, tentu saja nenek itu merasa senang. Sampai akhirnya genap sudah seminggu mereka tinggal bersama.
“Nak, sudah seminggu kamu tinggal di sini. Aku senang karena kamu rajin dan berbakti. Sesuai janjiku kau boleh membawa baju ibumu. Satu lagi, kau boleh memilih satu labu kuning ini sebagai hadiah. Ada dua labu, kamu boleh memilih yang mana saja,” kata nenek.


Meski menolak, Bawang Putih akhirnya memilih labu yang paling kecil. “Saya takut tidak kuat membawa yang besar,” katanya. Nenek pun tersenyum dan mengantarkan Bawang putih hingga depan rumah.
Sesampainya di rumah Bawang Putih langsung menyerahkan baju ibu tirinya. Sementara ibunya memeriksa baju, Bawang Putih membawa labu ke dapur untuk diolah. Alangkah terkejutnya Bawang Putih, di dalam labu itu terdapat emas permata yang sangat banyak. Dia berteriak gembira dan memberitahukan hal ini pada ibu tirinya. Dengan serakah mereka langsung merebut emas permata tersebut, dan memaksa Bawang Putih menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkannya.
Setelah mendengar cerita itu Bawang Merah dan ibunya berencana melakukan hal yang sama. Akhirnya Bawang Merah sampai juga di rumah nenek tua. Seperti Bawang Putih, Bawang Merah pun diminta untuk menemaninya selama seminggu. Tidak seperti Bawang Putih, selama seminggu itu Bawang Merah hanya bermalas-malasan. Setiap ada pekerjaan ia lakukan sekedarnya saja, hingga hasilnya tidak pernah bagus.
Akhirnya waktu seminggu pun berlalu, dan Nenek itu membolehkan Bawang Merah pergi. “Bukankah seharusnya nenek memberiku hadiah labu?” tanya Bawang Merah. Dengan terpaksa Nenek itu pun menyuruh Bawang Merah memilih satu labu yang ditawarkan. Dengan cepat bawang merah mengambil labu yang besar, dan langsung berlalu tanpa mengucapkan terima kasih.
Sesampai di rumah Bawang Merah segera menemui ibunya dan memamerkan labu besar yang dibawanya. Dengan licik mereka menyuruh Bawang Putih pergi ke sungai. Seperginya gadis itu mereka langsung membelah labu tersebut, namun ternyata tidak berisi emas permata. Di dalam labu terdapat ular, kalajengking, kecoa, laba-laba, dan binatang lain yang langsung menyerang mereka berdua. Karena tidak ada yang menolong, kedua perempuan itu tewas terkena bisa.


Bagikan

Comments (0)

Kisah Bima Suci
by Rahmat Ilham in , , ,

Tersebut dalam cerita, sang Bima atau Bratasena alias Werkudara adalah kesatria berbudi mulia, jujur dan bahkan cenderung lugu. Meski begitu ia punya keberanian dan kesetiaan pada kebenaran, nyaris tanpa kompromi dalam membungkam praktek penyimpangan dan kesewenang-wenangan. Begitu jujurnya Bima sampai-sampai BISA dimanfaatkan oleh orang-orang yang memperalatnya, termasuk guru yang paling dihormatinya yaitu sang Durna. Sebenarnya Durna memang merupakan agen mata-mata dari Kurawa.

Suatu ketika Durna memerintahkan Bima untuk mencari “air kehidupan” –toya amerta- sebagai prasyarat mencapai kesejatian hidup. Air ini dianggap tersimpan di bawah Kayu Gung Susuhing Angin (Pohon besar tempat bersarangnya angin) di belantara pegunungan Reksa Muka. Karena ketaatannya pada guru sekaligus karena kepolosannya, Bima bersedia menjalankan perintah tersebut, padahal maksud Durna yang sebenarnya hanya ingin mencelakakan Bima. Tempat yang di sebut Gunung Reksa Muka adalah tempat yang sangat berbahaya dan bisa membuat Bima celaka atau bahkan binasa.

“Sendiko Dawuh Hyang Resi, Bima siap menjalankan perintah, kapanpun dan kemanapun Hyang Resi titahkan,” begitu sembah Bima pada gurunya. Selanjutnya Bima pun berangkat menuju tempat yang ditunjukkan Gurunya.

Sesampainya di belantara pegunungan Reksa Muka, ternyata Bima tidak menemukan benda yang disebutkan gurunya. Malah sebaliknya, ia bertemu raksasa kembar yang hampir saja membunuhnya, yang ketika keduanya telah berubah wujud ternyata adalah dewa-dewa yang memberi tahu Bima bahwa air kehidupan tidak terdapat di tempat itu.

Bima pun kembali menemui gurunya –Durna- untuk meminta tambahan keterangan. Durna pun menyatakan, air kehidupan itu terdapat di dasar lautan. Bima pun kontan mohon pamit pada ibu dan saudara-saudaranya untuk mengembara, mengemban tugas dari gurunya. Meskipun mereka menahannya, Bima tetap berangkat.

Ketika memasuki lautan Bima diserang seekor ular besar yang hampir membunuhnya, tetapi dengan kekuatan kuku Panchanakanya, dia dapat membunuh ular tersebut. Saat makin dalam memasuki lautan Bima menjadi tidak sadarkan diri. Dan ketika ia membuka mata yang terlihat oleh Bima adalah mahluk serupa dirinya tetapi dalam ukuran kecil yakni Dewa Ruci.

Dewa Ruci meminta Bima untuk masuk ke dalam badannya melalui telinga kirinya. Walaupun dewa ini sangat kecil, tetapi Bima dapat masuk ke dalam tubuh Dewa Ruci dan menemukan dirinya berada pada suatu dunia yang mengagumkan, damai sekaligus indah. Di tempat ini Bima merasa sangat nyaman dan berharap bisa tetap tinggal di sana.

Dewa Ruci kemudian menjelaskan makna dari apa yang dilihatnya dan makna dari kehidupan.
Menjawab keinginan Bima untuk tinggal di sana, Dewa Ruci mengatakan ia boleh tinggal di sana setelah kematiannya. Tetapi untuk saat ini, ia harus kembali ke bumi bersama dengan saudara-saudaranya untuk melaksakan kewajiban sebagai ksatria. Bima pun mematuhi Dewa Ruci dan kembali ke dunia nyata untuk melanjutkan perlawanannya memerangi kejahatan, membela saudara-saudaranya melawan Kurawa.



Bagikan

Comments (0)